Rusia dilaporkan mengirimkan dua kapal perang berpeluru kendali mematikan yang mempunyai kemampuan mencapai Eropa ke Laut Baltik. Pengiriman dua kapal perang ini dilakukan ditengah persiapan NATO mengirimkan ribuan pasukan ke perbatasan Rusia.
Dua kapal perang tersebut awalnya adalah bagian dari armada kapal perang yang dikirimkan ke Laut Mediterania. Mereka berencana mengisi bahan bakar di Spanyol sebelum melanjutkan perjalanan menuju Suriah. Namun kapal itu malah bergerak ke Laut Utara,melewati Great Belt sekitar Denmark dan ke Laut Baltik.
Diyakini kapal-kapal itu sedang dalam perjalanan ke kantong Rusia di Baltik, Kaliningrad, yang baru-baru ini memiliki sejumlah rudal mematikan. "Dengan munculnya dua kapal kecil yang dipersenjatai dengan rudal jelajah Kalibr, Armada kapal itu berpotensi menargetkan basis militer Eropa di utara," ucap sebuah sumber seperti dikutip dari Express, Kamis (27/10/2016)
Dylan White, yang bertindak sebagai juru bicara NATO mengatakan: "Angkatan Laut NATO sedang memantau kegiatan ini di dekat perbatasan kita."
Sedangkan seorang analis pertahanan dari Atlantic Council Digital Forensik Research Lab, menambahkan: "Penambahan rudal Kalibr akan meningkatkan jangkauan serangan bukan hanya dari Armada Baltik, tapi pasukan Rusia di kawasan Baltik, lima kali lipat. Dua korvet kecil, dengan kemampuan rudal nuklir modern mereka, mungkin belum memberikan dampak yang luar biasa untuk ukuran mereka di Baltik."
Armada ini menjadi berbahaya setelah diatur untuk menerima lebih lanjut tiga kapal perang bersenjata dengan rudal yang sama pada akhir 2020.
Hubungan Rusia dengan sejumlah negara Baltik menjadi lebih dan lebih menegangkan dalam beberapa bulan terakhir karena Rusia mencoba untuk memamerkan kekuatan militernya. (SindoNews)
Showing posts with label Konflik Eropa. Show all posts
Showing posts with label Konflik Eropa. Show all posts
Wednesday, October 26, 2016
Enam Negara NATO Siap Kirim Kekuatan Penuh ke Laut Hitam
Sekretaris Jenderal (Sekjen) NATO, Jens Stoltenberg menyatakan enam negara anggota organisasi itu siap mengirimkan unit angkatan laut mereka ke Laut Hitam pada 2017 mendatang. Enam negara itu diantaranya adalah Amerika Serikat (AS), Turki, dan Polandia.
Stoltenberg mencatat kemajuan dalam memperkuat kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam. "Dengan kerangka brigadi multinasional yang dipimpin Rumania di darat dan kami sedang bekerja pada langkah-langkah di udara dan laut," seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (27/10/2016).
Stoltenberg mengatakan beberapa negara anggota menunjukkan kesediannya untuk berkontribusi menunjukkan kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam di darat, laut, dan di udara termasuk Kanada, Jerman, Belanda, Polandia, Turki dan Amerika Serikat. "Sekutu lain juga melihat bagaimana mereka bisa berkontribusi," tambahnya.
Rencana pada peningkatan kehadiran Laut Hitam akan diselesaikan selama pertemuan lain pada menteri NATO pada bulan Februari. Berikut reunifikasi Crimea dengan Rusia, NATO telah semakin khawatir tentang Laut Hitam berubah menjadi "danau Rusia."
Stoltenberg juga mengatakan bahwa 17 negara NATO akan mendelegasikan unit mereka untuk bergabung dengan empat batalyon multinasional di darat untuk dikerahkan di Polandia dan Negara Baltik awal tahun depan. Batalyon akan dipimpin oleh AS, Inggris, Kanada dan Jerman, sedangkan negara-negara pengirim pasukan mereka termasuk Perancis, Polandia, Albania, Rumania, Kroasia dan lain-lain.
Stoltenberg menekankan bahwa NATO sedang memantau pergerakan kapal Rusia di Laut Baltik. "Saya dapat mengkonfirmasikan bahwa dua kapal perang Rusia baru-baru ini memasuki Laut Baltik, dan NATO memantau gerakan ini dengan cara yang selalu kita lakukan," katanya.
Namun Stoltenberg menekankan bahwa, meskipun terjadi penumpukan pasukan di Eropa Timur, aliansi siap berdialog dengan Moskow. "Kami prihatin tentang perilaku Rusia. Dialog Bur bahkan lebih penting ketika ketegangan semakin tinggi. Dan NATO siap untuk mengadakan pertemuan duta besar dari Dewan NATO-Rusia dalam waktu dekat," katanya. (Sindonews)
Stoltenberg mencatat kemajuan dalam memperkuat kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam. "Dengan kerangka brigadi multinasional yang dipimpin Rumania di darat dan kami sedang bekerja pada langkah-langkah di udara dan laut," seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (27/10/2016).
Stoltenberg mengatakan beberapa negara anggota menunjukkan kesediannya untuk berkontribusi menunjukkan kehadiran NATO di wilayah Laut Hitam di darat, laut, dan di udara termasuk Kanada, Jerman, Belanda, Polandia, Turki dan Amerika Serikat. "Sekutu lain juga melihat bagaimana mereka bisa berkontribusi," tambahnya.
Rencana pada peningkatan kehadiran Laut Hitam akan diselesaikan selama pertemuan lain pada menteri NATO pada bulan Februari. Berikut reunifikasi Crimea dengan Rusia, NATO telah semakin khawatir tentang Laut Hitam berubah menjadi "danau Rusia."
Stoltenberg juga mengatakan bahwa 17 negara NATO akan mendelegasikan unit mereka untuk bergabung dengan empat batalyon multinasional di darat untuk dikerahkan di Polandia dan Negara Baltik awal tahun depan. Batalyon akan dipimpin oleh AS, Inggris, Kanada dan Jerman, sedangkan negara-negara pengirim pasukan mereka termasuk Perancis, Polandia, Albania, Rumania, Kroasia dan lain-lain.
Stoltenberg menekankan bahwa NATO sedang memantau pergerakan kapal Rusia di Laut Baltik. "Saya dapat mengkonfirmasikan bahwa dua kapal perang Rusia baru-baru ini memasuki Laut Baltik, dan NATO memantau gerakan ini dengan cara yang selalu kita lakukan," katanya.
Namun Stoltenberg menekankan bahwa, meskipun terjadi penumpukan pasukan di Eropa Timur, aliansi siap berdialog dengan Moskow. "Kami prihatin tentang perilaku Rusia. Dialog Bur bahkan lebih penting ketika ketegangan semakin tinggi. Dan NATO siap untuk mengadakan pertemuan duta besar dari Dewan NATO-Rusia dalam waktu dekat," katanya. (Sindonews)
Tuesday, October 18, 2016
Pentagon Nyatakan Defcon 3, AS bersiap perang lawan Rusia
Konflik Suriah membuat ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia terus mengarah titik nadir. Kedua negara saling mengancam, bahkan Presiden Vladimir Putin memperingatkan warganya untuk bersiap-siap jika terjadi perang.
Hal yang sama juga dilakukan AS. Negara ini telah meningkatkan sistem pertahanannya menjadi Defcon level 3, artinya Pentagon tak lagi memandang sebelah mata terhadap ancaman-ancaman Rusia. Bahkan, negara ini bisa mengerahkan Angkatan Udaranya dalam hitungan 15 menit.
Defcon berarti 'kondisi kesiapan pertahanan', di mana negara dalam keadaan bersiap untuk menghadapi ancaman dari luar, seperti perang nuklir. Defcon terdiri atas lima level, di mana level kelima merupakan level paling terendah, di mana negara dirasa aman dari ancaman apapun.
Sebaliknya, Defcon level satu merupakan tanda bahaya. Jika itu terjadi, maka negara memiliki hak untuk menggunakan opsi militer guna menetralisir perang nuklir, dan melakukan respons cepat terhadap setiap ancaman. Sedangkan level tiga berarti Angkatan Udara AS bisa dimobilisasi hanya dalam waktu 15 menit.
Berdasarkan laporan dari media setempat, saat ini AS telah menetapkan Defcon 3. Penetapan ini dilakukan sesuai meningkatnya tensi, kejadian di dunia, dan kemungkinan pernyataan perang terhadap Rusia.
Tensi ketegangan itu terjadi setelah AS dan Rusia saling menyalahkan atas rusaknya perjanjian gencatan senjata, di mana terjadi pengeboman terhadap iringan bantuan, dan serangan terhadap Kota Aleppo. Di mana AS melindungi pasukan pemberontak dan Rusia berdiri di belakang Bashar al-Assad.
Belum ada penjelasan resmi dari pemerintah AS tentang penetapan Defcon 3 terhadap sistem pertahanan mereka. Apalagi, Rusia telah menyatakan bergabung dengan China untuk menghentikan operasi AS dalam membangun jaringan misil di Eropa dan Asia. (Merdeka)
Hal yang sama juga dilakukan AS. Negara ini telah meningkatkan sistem pertahanannya menjadi Defcon level 3, artinya Pentagon tak lagi memandang sebelah mata terhadap ancaman-ancaman Rusia. Bahkan, negara ini bisa mengerahkan Angkatan Udaranya dalam hitungan 15 menit.
Defcon berarti 'kondisi kesiapan pertahanan', di mana negara dalam keadaan bersiap untuk menghadapi ancaman dari luar, seperti perang nuklir. Defcon terdiri atas lima level, di mana level kelima merupakan level paling terendah, di mana negara dirasa aman dari ancaman apapun.
Sebaliknya, Defcon level satu merupakan tanda bahaya. Jika itu terjadi, maka negara memiliki hak untuk menggunakan opsi militer guna menetralisir perang nuklir, dan melakukan respons cepat terhadap setiap ancaman. Sedangkan level tiga berarti Angkatan Udara AS bisa dimobilisasi hanya dalam waktu 15 menit.
Berdasarkan laporan dari media setempat, saat ini AS telah menetapkan Defcon 3. Penetapan ini dilakukan sesuai meningkatnya tensi, kejadian di dunia, dan kemungkinan pernyataan perang terhadap Rusia.
Tensi ketegangan itu terjadi setelah AS dan Rusia saling menyalahkan atas rusaknya perjanjian gencatan senjata, di mana terjadi pengeboman terhadap iringan bantuan, dan serangan terhadap Kota Aleppo. Di mana AS melindungi pasukan pemberontak dan Rusia berdiri di belakang Bashar al-Assad.
Belum ada penjelasan resmi dari pemerintah AS tentang penetapan Defcon 3 terhadap sistem pertahanan mereka. Apalagi, Rusia telah menyatakan bergabung dengan China untuk menghentikan operasi AS dalam membangun jaringan misil di Eropa dan Asia. (Merdeka)
Monday, October 17, 2016
Risia Bersiap Perang Nuklir, Ini Dia Tanda-tandanya
Ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat belakangan ini meningkat lantaran konflik Suriah. Menurut pengamat, ketegangan ini lebih berbahaya ketimbang pada masa Perang Dingin. Konflik Suriah yang tak kunjung berakhir membuat dua negara kekuatan besar itu saling mempersiapkan kemungkinan terburuk.
AS disebut-sebut akan melancarkan serangan udara terhadap pasukan pemerintah Suriah sebagai bentuk opsi militer. Rusia yang selama ini mendukung rezim Basyar al-Assad sudah mengatakan akan mempertahankan Suriah dari serangan AS.
Dalam pandangan Rusia, AS akan melancarkan serangan terlebih dulu dan Negeri Beruang merah itu akan memberi respon dengan kekuatan militer mereka. Berikut lima sinyal yang menyatakan Rusia siap berperang nuklir dengan AS dan sekutunya:
1. Rusia panggil pulang semua warga di luar negeri
Rusia dilaporkan meminta seluruh pejabat mereka di luar negeri memulangkan keluarganya menyusul kondisi saat ini yang berpotensi menimbulkan Perang Dunia.
Media lokal mengatakan, sejumlah politisi dan pejabat-pejabat penting sudah menerima peringatan dari Presiden Vladimir Putin untuk membawa pulang orang-orang yang mereka kasihi ke Tanah Air.
Menurut situs Rusia Znak.com, seluruh pejabat dan staf administrasi negara di semua tingkatan sudah diperintahkan memulangkan semua anak-anak mereka dari sekolah luar negeri.
Media setempat menyatakan siapa pun yang tidak menuruti perintah ini akan kehilangan kesempatan mendapat promosi jabatan. Meski begitu belum jelas juga apa penyebab pemerintah meminta keluarga para pejabat dipulangkan.
Dikutip Daily Star, pengamat politik Rusia Stanislav Belkovsky mengatakan, "perintah ini adalah bagian dari langkah antisipasi terhadap kemungkinan 'perang besar'."
Kabar ini muncul setelah Putin membatalkan kunjungan ke Prancis karena tudingan atas peran Moskow dalam konflik Suriah. Selain itu beberapa waktu lalu terungkap Kremlin sudah mengerahkan rudal yang bisa membawa hulu ledak nuklir ke dekat perbatasan Polandia.
Mantan presiden Soviet Mikhail Gorbachev juga sempat menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi dunia karena ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat dalam konflik Suriah.
Hubungan AS dan Rusia kini dalam kondisi paling buruk sejak Perang Dingin setelah gencatan senjata di Suriah gagal terlaksana.
2. Rusia pertama kali kerahkan senjata antirudal di Suriah
Tiga pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada stasiun televisi Fox News, Rusia kini sudah mengerahkan persenjataan militer modern berupa sistem antirudal ke Suriah buat pertama kali. Ini berarti Rusia ingin meningkatkan operasi militernya di Suriah untuk mendukung rezim Basyar al-Assad, seperti dilansir Fox News, Selasa (4/10).
Kabar ini muncul menyusul gagalnya gencatan senjata yang diupayakan AS dan Rusia dua pekan lalu.
Sistem antirudal jenis SA-23 Gladiator itu mempunyai jangkauan jarak tembak 150 mil. Persenjataan militer itu tiba di pangkalan laut Rusia di sepanjang pesisir Mediterania di Kota Tartus, Suriah.
Mengutip pernyataan intelijen, seorang pejabat negara Barat mengatakan ini adalah kali pertama Rusia mengerahkan SA-23 di luar negaranya. Meski begitu rudal dan komponen-komponen senjata militer itu masih belum disiapkan untuk beroperasi.
Komunitas intelijen AS dalam beberapa pekan terakhir memang mengamati pergerakan dari SA-23.
Meski belum jelas apa tujuan Rusia mengerahkan senjata itu, namun seorang pejabat AS dengan sarkastis bertanya-tanya, "Nusra jelas tidak punya angkatan udara, bukan?" kata dia tentang kelompok jaringan Al Qaidah di Suriah. ISIS juga tidak punya pesawat. Itu artinya Rusia jelas mengerahkan sistem antirudal buat melindungi diri dari segala kemungkinan serangan dari Amerika Serikat dan sekutunya.
SA-23 bisa meluncurkan dua jenis rudal. Rudal lebih kecil dipakai untuk menembak pesawat dan rudal yang dari musuh, NATO menyebutnya Gladiator. Rudal lebih besar dipakai untuk menghalau rudal balistik musuh jarak menengah dan mengganggu pergerakan pesawat musuh. Menurut military-today.com, kedua rudal memuat hulu ledak yang sama tipenya, mengandung 136 kilogram peledak.
Pejabat AS belakangan menuding Rusia dan rezim Suriah membombardir rakyat sipil. Dua pekan lalu rombongan kendaraan bantuan kemanusiaan PBB diserang bom hingga menewaskan puluhan relawan. Menurut laporan media lokal, dalam beberapa pekan terakhir, ratusan warga sipil, termasuk anak-anak tewas akibat serangan udara.
3. Rusia perintahkan warga siap berlindung di bunker dan pakai topeng gas
Menurut stasiun televisi ABC News, melalui media pemerintah, warga diperintahkan memeriksa dan mencari lokasi bunker perlindungan terdekat dan menyiapkan topeng gas. Pihak berwenang juga disiapkan untuk memberi tahu warga apa yang harus disiapkan dan dilakukan jika terjadi serangan bom nuklir.
"Jika perang nuklir itu terjadi suatu hari, kalian harus tahu di mana letak bunker perlindungan terdekat," kata sebuah laporan dari stasiun televisi pemerintah, NTV. Selanjutnya dalam tayangan itu NTV memperlihatkan sebuah lokasi bunker perlindungan di Ibu Kota Moskow.
Mantan pejabat intelijen Amerika Serikat juga mengatakan Rusia kini tengah membangun puluhan bunker pusat komando serangan nuklir.
Rusia mulai membangun bunker-bunker itu sejak beberapa tahun lalu.
Amerika Serikat dan Rusia sepakat bekerja sama untuk melenyapkan senjata nuklir mereka sejak berakhirnya Perang Dingin.
"Rusia kini tengah bersiap menghadapi perang besar yang berarti perang nuklir dengan melancarkan serangan lebih dulu," ujar Mark Schneider, mantan pejabat bidang kebijakan nuklir Pentagon kepada Free Beacon.
Scheneider mengatakan Amerika saat ini tidak serius untuk menyiapkan perang besar, apalagi perang nuklir.
Kabar Negeri Beruang Merah sedang membangun bunker itu baru-baru ini terungkap setelah media pemerintah Rusia mengatakan mereka sedang membangun bunker di Moskow sebagai bagian dari strategi keamanan nasional.
4. Rusia gelar uji coba peluncuran rudal balistik
Kantor berita RIA Novosti melaporkan, Rusia juga menggelar uji coba peluncuran rudal balistik pekan ini dan menembakkan tiga rudal dalam sehari. Dua dari rudal yang bisa membawa hulu ledak nuklir diluncurkan dari kapal selam di pesisir Pasifik dan satunya lagi dari suatu lokasi peluncuran di darat.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan kapal selam di Pasifik itu meluncurkan rudal antarbenua dari lepas pantai Laut Okhotsk pada Rabu lalu. Masih dalam hari yang sama, kapal selam di Laut Barents meluncurkan rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Rudal ketiga diluncurkan di sebelah timur laut Rusia di kawasan Kamchatka.
5. 40 Juta warga Rusia ikut latihan evakuasi keadaan perang
Pemerintah Rusia menggelar evakuasi besar-besar yang melibatkan 40 juta warga dalam sebuah latihan persiapan menghadapi perang nuklir awal bulan ini.
Direktur Departemen Pertahanan Sipil Oleg Manuilov mengatakan kepada Interfax, latihan itu digelar pada 4-7 Oktober melibatkan 40 juta warga dan lebih dari 200 ribu petugas penyelamat serta 50 ribu peralatan.
Latihan itu dilakukan sebagai persiapan dalam menghadapi kemungkinan perang dengan Amerika Serikat dan negara sekutunya menyusul kondisi di Suriah yang kian menegangkan. (Merdeka)
AS disebut-sebut akan melancarkan serangan udara terhadap pasukan pemerintah Suriah sebagai bentuk opsi militer. Rusia yang selama ini mendukung rezim Basyar al-Assad sudah mengatakan akan mempertahankan Suriah dari serangan AS.
Dalam pandangan Rusia, AS akan melancarkan serangan terlebih dulu dan Negeri Beruang merah itu akan memberi respon dengan kekuatan militer mereka. Berikut lima sinyal yang menyatakan Rusia siap berperang nuklir dengan AS dan sekutunya:
1. Rusia panggil pulang semua warga di luar negeri
Rusia dilaporkan meminta seluruh pejabat mereka di luar negeri memulangkan keluarganya menyusul kondisi saat ini yang berpotensi menimbulkan Perang Dunia.
Media lokal mengatakan, sejumlah politisi dan pejabat-pejabat penting sudah menerima peringatan dari Presiden Vladimir Putin untuk membawa pulang orang-orang yang mereka kasihi ke Tanah Air.
Menurut situs Rusia Znak.com, seluruh pejabat dan staf administrasi negara di semua tingkatan sudah diperintahkan memulangkan semua anak-anak mereka dari sekolah luar negeri.
Media setempat menyatakan siapa pun yang tidak menuruti perintah ini akan kehilangan kesempatan mendapat promosi jabatan. Meski begitu belum jelas juga apa penyebab pemerintah meminta keluarga para pejabat dipulangkan.
Dikutip Daily Star, pengamat politik Rusia Stanislav Belkovsky mengatakan, "perintah ini adalah bagian dari langkah antisipasi terhadap kemungkinan 'perang besar'."
Kabar ini muncul setelah Putin membatalkan kunjungan ke Prancis karena tudingan atas peran Moskow dalam konflik Suriah. Selain itu beberapa waktu lalu terungkap Kremlin sudah mengerahkan rudal yang bisa membawa hulu ledak nuklir ke dekat perbatasan Polandia.
Mantan presiden Soviet Mikhail Gorbachev juga sempat menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi dunia karena ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat dalam konflik Suriah.
Hubungan AS dan Rusia kini dalam kondisi paling buruk sejak Perang Dingin setelah gencatan senjata di Suriah gagal terlaksana.
2. Rusia pertama kali kerahkan senjata antirudal di Suriah
Tiga pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada stasiun televisi Fox News, Rusia kini sudah mengerahkan persenjataan militer modern berupa sistem antirudal ke Suriah buat pertama kali. Ini berarti Rusia ingin meningkatkan operasi militernya di Suriah untuk mendukung rezim Basyar al-Assad, seperti dilansir Fox News, Selasa (4/10).
Kabar ini muncul menyusul gagalnya gencatan senjata yang diupayakan AS dan Rusia dua pekan lalu.
Sistem antirudal jenis SA-23 Gladiator itu mempunyai jangkauan jarak tembak 150 mil. Persenjataan militer itu tiba di pangkalan laut Rusia di sepanjang pesisir Mediterania di Kota Tartus, Suriah.
Mengutip pernyataan intelijen, seorang pejabat negara Barat mengatakan ini adalah kali pertama Rusia mengerahkan SA-23 di luar negaranya. Meski begitu rudal dan komponen-komponen senjata militer itu masih belum disiapkan untuk beroperasi.
Komunitas intelijen AS dalam beberapa pekan terakhir memang mengamati pergerakan dari SA-23.
Meski belum jelas apa tujuan Rusia mengerahkan senjata itu, namun seorang pejabat AS dengan sarkastis bertanya-tanya, "Nusra jelas tidak punya angkatan udara, bukan?" kata dia tentang kelompok jaringan Al Qaidah di Suriah. ISIS juga tidak punya pesawat. Itu artinya Rusia jelas mengerahkan sistem antirudal buat melindungi diri dari segala kemungkinan serangan dari Amerika Serikat dan sekutunya.
SA-23 bisa meluncurkan dua jenis rudal. Rudal lebih kecil dipakai untuk menembak pesawat dan rudal yang dari musuh, NATO menyebutnya Gladiator. Rudal lebih besar dipakai untuk menghalau rudal balistik musuh jarak menengah dan mengganggu pergerakan pesawat musuh. Menurut military-today.com, kedua rudal memuat hulu ledak yang sama tipenya, mengandung 136 kilogram peledak.
Pejabat AS belakangan menuding Rusia dan rezim Suriah membombardir rakyat sipil. Dua pekan lalu rombongan kendaraan bantuan kemanusiaan PBB diserang bom hingga menewaskan puluhan relawan. Menurut laporan media lokal, dalam beberapa pekan terakhir, ratusan warga sipil, termasuk anak-anak tewas akibat serangan udara.
3. Rusia perintahkan warga siap berlindung di bunker dan pakai topeng gas
Menurut stasiun televisi ABC News, melalui media pemerintah, warga diperintahkan memeriksa dan mencari lokasi bunker perlindungan terdekat dan menyiapkan topeng gas. Pihak berwenang juga disiapkan untuk memberi tahu warga apa yang harus disiapkan dan dilakukan jika terjadi serangan bom nuklir.
"Jika perang nuklir itu terjadi suatu hari, kalian harus tahu di mana letak bunker perlindungan terdekat," kata sebuah laporan dari stasiun televisi pemerintah, NTV. Selanjutnya dalam tayangan itu NTV memperlihatkan sebuah lokasi bunker perlindungan di Ibu Kota Moskow.
Mantan pejabat intelijen Amerika Serikat juga mengatakan Rusia kini tengah membangun puluhan bunker pusat komando serangan nuklir.
Rusia mulai membangun bunker-bunker itu sejak beberapa tahun lalu.
Amerika Serikat dan Rusia sepakat bekerja sama untuk melenyapkan senjata nuklir mereka sejak berakhirnya Perang Dingin.
"Rusia kini tengah bersiap menghadapi perang besar yang berarti perang nuklir dengan melancarkan serangan lebih dulu," ujar Mark Schneider, mantan pejabat bidang kebijakan nuklir Pentagon kepada Free Beacon.
Scheneider mengatakan Amerika saat ini tidak serius untuk menyiapkan perang besar, apalagi perang nuklir.
Kabar Negeri Beruang Merah sedang membangun bunker itu baru-baru ini terungkap setelah media pemerintah Rusia mengatakan mereka sedang membangun bunker di Moskow sebagai bagian dari strategi keamanan nasional.
4. Rusia gelar uji coba peluncuran rudal balistik
Kantor berita RIA Novosti melaporkan, Rusia juga menggelar uji coba peluncuran rudal balistik pekan ini dan menembakkan tiga rudal dalam sehari. Dua dari rudal yang bisa membawa hulu ledak nuklir diluncurkan dari kapal selam di pesisir Pasifik dan satunya lagi dari suatu lokasi peluncuran di darat.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan kapal selam di Pasifik itu meluncurkan rudal antarbenua dari lepas pantai Laut Okhotsk pada Rabu lalu. Masih dalam hari yang sama, kapal selam di Laut Barents meluncurkan rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Rudal ketiga diluncurkan di sebelah timur laut Rusia di kawasan Kamchatka.
5. 40 Juta warga Rusia ikut latihan evakuasi keadaan perang
Pemerintah Rusia menggelar evakuasi besar-besar yang melibatkan 40 juta warga dalam sebuah latihan persiapan menghadapi perang nuklir awal bulan ini.
Direktur Departemen Pertahanan Sipil Oleg Manuilov mengatakan kepada Interfax, latihan itu digelar pada 4-7 Oktober melibatkan 40 juta warga dan lebih dari 200 ribu petugas penyelamat serta 50 ribu peralatan.
Latihan itu dilakukan sebagai persiapan dalam menghadapi kemungkinan perang dengan Amerika Serikat dan negara sekutunya menyusul kondisi di Suriah yang kian menegangkan. (Merdeka)
Sunday, October 9, 2016
Perang Rusia dan Negara Barat Pecah di Pertemuan DK PBB
"Perang" antara negara-negara Barat dan Rusia pecah dalam pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB. Pertemuan itu membahas dua resolusi, yakni resolusi yang diajukan Prancis dan oleh Rusia.
Perseteruan bermula saat Rusia memveto resolusi yang diajukan Prancis. Resolusi itu berisi desakan kepada seluruh negara untuk menghentikan serangan di Aleppo, Suriah.
Melansir Al Jazeera pada Minggu (9/10), ini adalah kali kelima Rusia memveto resolusi di DK PBB sepanjang lima tahun konflik di Suriah berlangsung. Dalam empat veto sebelumnya, Rusia mendapat dukungan dari China. Tapi kali ini China mengambil sikap abstain, atau tidak memilih.
Setelah pembahasan mengenai resolusi yang diajukan Prancis, DK PBB kemudia berlanjut pada resolusi yang diajukan Rusia. Resolusi tersebut tidak berhasil diadopsi karena banyak negara yang menolak resolusi tersebut.
Situasi memanas, paska usulan Rusia gagal mengumpulkan cukup suara. Matthew Rycroft, duta besar Inggris untuk PBB langsung mengelurkan pernyataan, dengan meminta Rusia untuk menghentikan pemboman di Aleppo. Dia juga menyebut bahwa negara-negara Barat ragu dengan komitmen Rusia di Suriah.
"Ini (usulan Rusia) gagal karena mereka gagal untuk memenuhi tuntutan untuk mengakhiri pemboman udara dari Aleppo. Ini palsu. Sama seperti komitmen berongga Rusia untuk proses politik di Suriah adalah palsu. Pemboman warga sipil di Aleppo adalah memuakkan dan barbar. Berhenti sekarang," ucap Rycroft.
Dalam menanggapi komentar Rycroft ini, Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, mengatakan Inggris harus berhenti mendukung teroris. "Hentikan mendukung semua penjahat di seluruh dunia termasuk teroris," katanya.
"Hentikan intervensi dalam urusan internal negara-negara berdaulat, menghentikan kebiasaan kolonial Anda, meninggalkan dunia dalam damai dan kemudian, mungkin, situasi akan membaik di banyak daerah," sambung Churkin.
Hubungan antara Rusia dan Barat, khususnya dengan Amerika Serikat (AS) terus memburuk akibat perbedaan pendapat soal Suriah. Hubungan itu terus memburuk paska AS memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dengan Rusia soal upaya damai di Suriah, yang mendapat kecaman keras dari Moskow.
Alasan Rusia Veto Resolusi yang Diajukan Prancis
Rusia mengungkapkan alasan mengapa mereka memveto resolusi yang diajukan Prancis di Dewan Keamanan (DK) PBB terkait Suriah. Resolusi Prancis berisikan desakan untuk menghentikan serangan udara di Aleppo.
Kementerian Luar Negeri Rusia menuturkan alasan mereka memveto resolusi itu adalah karena mereka menilai resolusi tersebut menguntungkan kelompok militan yang beroperasi di Aleppo. Selain itu, Moskow menyebut resolusi itu terlalu dipolitisir.
"Upaya eksplisit dibuat, dengan melarang penerbangan di wilayah Aleppo, untuk memberikan penyamaran bagi teroris dari Jabhat Al-Nusra dan militan terkait," kata Kemlu Rusia, seperti dilansir Reuters pada Minggu (9/10).
Veto yang dilakukan Rusia terhadap resolusi yang diajukan Prancis merupakan awal "perang" antara Rusia dan negara-negara Barat di DK PBB. Dampak pertama dari veto tersebut adalah sedikitnya negara yang menyetujui resolusi Rusia di DK PBB. (SindoNews)
Perseteruan bermula saat Rusia memveto resolusi yang diajukan Prancis. Resolusi itu berisi desakan kepada seluruh negara untuk menghentikan serangan di Aleppo, Suriah.
Melansir Al Jazeera pada Minggu (9/10), ini adalah kali kelima Rusia memveto resolusi di DK PBB sepanjang lima tahun konflik di Suriah berlangsung. Dalam empat veto sebelumnya, Rusia mendapat dukungan dari China. Tapi kali ini China mengambil sikap abstain, atau tidak memilih.
Setelah pembahasan mengenai resolusi yang diajukan Prancis, DK PBB kemudia berlanjut pada resolusi yang diajukan Rusia. Resolusi tersebut tidak berhasil diadopsi karena banyak negara yang menolak resolusi tersebut.
Situasi memanas, paska usulan Rusia gagal mengumpulkan cukup suara. Matthew Rycroft, duta besar Inggris untuk PBB langsung mengelurkan pernyataan, dengan meminta Rusia untuk menghentikan pemboman di Aleppo. Dia juga menyebut bahwa negara-negara Barat ragu dengan komitmen Rusia di Suriah.
"Ini (usulan Rusia) gagal karena mereka gagal untuk memenuhi tuntutan untuk mengakhiri pemboman udara dari Aleppo. Ini palsu. Sama seperti komitmen berongga Rusia untuk proses politik di Suriah adalah palsu. Pemboman warga sipil di Aleppo adalah memuakkan dan barbar. Berhenti sekarang," ucap Rycroft.
Dalam menanggapi komentar Rycroft ini, Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia untuk PBB, mengatakan Inggris harus berhenti mendukung teroris. "Hentikan mendukung semua penjahat di seluruh dunia termasuk teroris," katanya.
"Hentikan intervensi dalam urusan internal negara-negara berdaulat, menghentikan kebiasaan kolonial Anda, meninggalkan dunia dalam damai dan kemudian, mungkin, situasi akan membaik di banyak daerah," sambung Churkin.
Hubungan antara Rusia dan Barat, khususnya dengan Amerika Serikat (AS) terus memburuk akibat perbedaan pendapat soal Suriah. Hubungan itu terus memburuk paska AS memutuskan untuk menghentikan pembicaraan dengan Rusia soal upaya damai di Suriah, yang mendapat kecaman keras dari Moskow.
Alasan Rusia Veto Resolusi yang Diajukan Prancis
Rusia mengungkapkan alasan mengapa mereka memveto resolusi yang diajukan Prancis di Dewan Keamanan (DK) PBB terkait Suriah. Resolusi Prancis berisikan desakan untuk menghentikan serangan udara di Aleppo.
Kementerian Luar Negeri Rusia menuturkan alasan mereka memveto resolusi itu adalah karena mereka menilai resolusi tersebut menguntungkan kelompok militan yang beroperasi di Aleppo. Selain itu, Moskow menyebut resolusi itu terlalu dipolitisir.
"Upaya eksplisit dibuat, dengan melarang penerbangan di wilayah Aleppo, untuk memberikan penyamaran bagi teroris dari Jabhat Al-Nusra dan militan terkait," kata Kemlu Rusia, seperti dilansir Reuters pada Minggu (9/10).
Veto yang dilakukan Rusia terhadap resolusi yang diajukan Prancis merupakan awal "perang" antara Rusia dan negara-negara Barat di DK PBB. Dampak pertama dari veto tersebut adalah sedikitnya negara yang menyetujui resolusi Rusia di DK PBB. (SindoNews)
Rusia Sebar Rudal Nuklir Iskander-M Untuk Hadapi Kemungkinan Perang Dunia III
Militer Rusia kembali menegaskan, pengerahan Rudal Iskander dari pelabuhan Laut Baltik ke Kaliningrad adalah bagian dari latihan rutin. Selain itu, militer Rusia juga menegaskan, mereka tidak pernah menutupi pengerahan rudal tersebut.
"Pertama-tama, mereka yang meributkan hal ini harus tahu bahwa sistem rudall Iskander adalah salah satu (sistem) mobile," kata juru bicara kementerian Pertahanan Rusia, Jenderal Igor Konashenkov, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (9/10).
"Sebagai bagian dari rencana pelatihan tempur, unit pasukan rudal sepanjang tahun meningkatkan kemampuan mereka dengan menutupi jarak besar di wilayah Federasi Rusia dalam berbagai cara:. Melalui udara, laut dan darat," sambungnya.
Konashenkov mencatat bahwa Kaliningrad bukanlah sebuah pengeculan dan bahwa sistem akan dipindahkan kembali di di masa depan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia.
Sebelumnya, Polandia dan Estonia menyampaikan kecemasannya atas langkah Rusia yang mengerahkan rudal nuklir Iskander-M ke Kalinigrad. Negara-negara Baltik itu kompak mengekspresikan “keprihatinan terdalam” atas manuver Rusia.
”Sepertinya saya sampaikan, ini adalah langkah lain dalam konteks umum dari eskalasi yang kita lihat, setidaknya dalam hal retorika,” kata Presiden Estonia, Toomas Hendrik Ilves.
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Estonia, Letnan Jenderal Riho Terras mengatakan kepada ERR, bahwa dia melihat langkah Rusia itu sebagai upaya untuk mendominasi Laut Baltik.
Negera-negara Baltik Cemas
Polandia dan Estonia menyampaikan kecemasannya atas langkah Rusia yang mengerahkan rudal nuklir Iskander-M ke Kalinigrad. Negara-negara Baltik itu kompak mengekspresikan “keprihatinan terdalam” atas manuver Rusia.
Rudal Iskander dikerahkan dari pelabuhan Laut Baltik ke Kaliningrad yang berbatasan langsung dengan negara-negara Baltik. Laporan pengerahan rudal berbahaya muncul di tengah kekhawatiran masyarakat internasional akan pecahnya Perang Dunia III antara Amerika Serikat dan Rusia yang saat ini sedang bersitegang.
”Sepertinya saya sampaikan, ini adalah langkah lain dalam konteks umum dari eskalasi yang kita lihat, setidaknya dalam hal retorika,” kata Presiden Estonia, Toomas Hendrik Ilves.
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Estonia, Letnan Jenderal Riho Terras mengatakan kepada ERR, bahwa dia melihat langkah Rusia itu sebagai upaya untuk mendominasi Laut Baltik.
”Dalam jangka panjang, keinginan Rusia adalah untuk membawa Laut Baltik di bawah kontrolnya,” kata Terras, yang dilansir semalam (8/10/2016). Menteri Pertahanan Polandia, Antoni Macierewicz, mengatakan bahwa Polandia memantau situasi.
Rudal Iskander-M bisa melesat sejauh 500 kilometer (310 mil). Dengan jangkauan sejauh itu, Polandia merasa dalam ancaman utama.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov mengecilkan kekhawatiran negara-negara Baltik.
”Sistem rudal balistik Iskander adalah mobile,” katanya. ”Unit rudal ini telah ditempatkan lebih dari sekali (di wilayah Kaliningrad) dan akan digunakan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia,” kata Konashenkov, seperti dikutip Reuters, Minggu (9/10/2016).
Kekhawatiran Meletusnya Perang Dunia III
Militer Moskow akhirnya angkat bicara soal pengerahan rudal nuklir Iskander-M ke Kaliningrad di tengah kekhawatiran masyarakat internasional akan pecahnya Perang Dunia (PD) III antara Rusia dan Amerika Serikat (AS). Rusia berdalih pengerahan rudal berbahaya itu hanya untuk latihan rutin semata.
Tapi negara-negara NATO yang berbatasan langsung dengan Kaliningrad sudah cemas dengan pengerahan rudal berbahaya Rusia itu. ”Unit rudal ini telah ditempatkan lebih dari sekali (di wilayah Kaliningrad) dan akan digunakan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Minggu (9/10/2016).
Laporan pergerakan rudal nuklir yang bisa melesat sejauh 500 kilometer itu pertama kali diungkap media Estonia dan dibenarkan pejabat intelijen AS. Rudal berbahaya Rusia dipindahkan secara rahasia dari pelabuhan Laut Baltik ke Kaliningrad tahun 2014.
”Mereka memindah sistem rudal mirip (Iskander-M) ke Kaliningrad pada tahun 2014 untuk latihan militer, itu bisa menjadi isyarat politik. Menunjukkan kekuatan, untuk mengekspresikan ketidaksenangan pada NATO,” kata pejabat intelijen AS, yang berbicara dalam kondisi anonim.
Media Estonia mengutip pejabat militer melaporkan bahwa rudal Iskander-M diangkut dengan kapal dari kawasan St Petersburg. Rusia sendiri pernah berencana memindahkan rudal berbahaya itu ke Kaliningrad tidak sampai tahun 2018 atau 2019.
“Senjata ini sangat canggih dan tidak ada senjata yang sebanding di gudang senjata Barat. Ini dapat membawa senjata nuklir, jarak terbang jarak hingga 500 km. Dengan demikian (rudal) ini mampu mengancam Polandia, termasuk instalasi pertahanan rudal AS di sana,” tulis media Estonia mengutip seorang ahli pertahanan negara itu.
Dalam beberapa pekan ini, kekhawatiran pecahnya PD III antara Rusia dan AS telah disuarakan media-media Rusia. Tabloid Moskovsky Komsomolets beberapa hari lalu melansir laporan prediksi pecahnya konfrontasi langsung AS dan Rusia yang dianggap setara dengan Krisis Rudal Kuba dan bisa memicu PD III.
Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang, setelah ketegangan dengan AS memanas. Selain itu, Rusia telah menangguhkan perjanjian pembuangan plutonium dari hulu ledak nuklir dengan alasan AS sudah melakukan tindakan bermusuhan terhadap Moskow. (SindoNews)
"Pertama-tama, mereka yang meributkan hal ini harus tahu bahwa sistem rudall Iskander adalah salah satu (sistem) mobile," kata juru bicara kementerian Pertahanan Rusia, Jenderal Igor Konashenkov, seperti dilansir Russia Today pada Minggu (9/10).
"Sebagai bagian dari rencana pelatihan tempur, unit pasukan rudal sepanjang tahun meningkatkan kemampuan mereka dengan menutupi jarak besar di wilayah Federasi Rusia dalam berbagai cara:. Melalui udara, laut dan darat," sambungnya.
Konashenkov mencatat bahwa Kaliningrad bukanlah sebuah pengeculan dan bahwa sistem akan dipindahkan kembali di di masa depan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia.
Sebelumnya, Polandia dan Estonia menyampaikan kecemasannya atas langkah Rusia yang mengerahkan rudal nuklir Iskander-M ke Kalinigrad. Negara-negara Baltik itu kompak mengekspresikan “keprihatinan terdalam” atas manuver Rusia.
”Sepertinya saya sampaikan, ini adalah langkah lain dalam konteks umum dari eskalasi yang kita lihat, setidaknya dalam hal retorika,” kata Presiden Estonia, Toomas Hendrik Ilves.
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Estonia, Letnan Jenderal Riho Terras mengatakan kepada ERR, bahwa dia melihat langkah Rusia itu sebagai upaya untuk mendominasi Laut Baltik.
Negera-negara Baltik Cemas
Polandia dan Estonia menyampaikan kecemasannya atas langkah Rusia yang mengerahkan rudal nuklir Iskander-M ke Kalinigrad. Negara-negara Baltik itu kompak mengekspresikan “keprihatinan terdalam” atas manuver Rusia.
Rudal Iskander dikerahkan dari pelabuhan Laut Baltik ke Kaliningrad yang berbatasan langsung dengan negara-negara Baltik. Laporan pengerahan rudal berbahaya muncul di tengah kekhawatiran masyarakat internasional akan pecahnya Perang Dunia III antara Amerika Serikat dan Rusia yang saat ini sedang bersitegang.
”Sepertinya saya sampaikan, ini adalah langkah lain dalam konteks umum dari eskalasi yang kita lihat, setidaknya dalam hal retorika,” kata Presiden Estonia, Toomas Hendrik Ilves.
Kepala Staf Angkatan Pertahanan Estonia, Letnan Jenderal Riho Terras mengatakan kepada ERR, bahwa dia melihat langkah Rusia itu sebagai upaya untuk mendominasi Laut Baltik.
”Dalam jangka panjang, keinginan Rusia adalah untuk membawa Laut Baltik di bawah kontrolnya,” kata Terras, yang dilansir semalam (8/10/2016). Menteri Pertahanan Polandia, Antoni Macierewicz, mengatakan bahwa Polandia memantau situasi.
Rudal Iskander-M bisa melesat sejauh 500 kilometer (310 mil). Dengan jangkauan sejauh itu, Polandia merasa dalam ancaman utama.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov mengecilkan kekhawatiran negara-negara Baltik.
”Sistem rudal balistik Iskander adalah mobile,” katanya. ”Unit rudal ini telah ditempatkan lebih dari sekali (di wilayah Kaliningrad) dan akan digunakan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia,” kata Konashenkov, seperti dikutip Reuters, Minggu (9/10/2016).
Kekhawatiran Meletusnya Perang Dunia III
Militer Moskow akhirnya angkat bicara soal pengerahan rudal nuklir Iskander-M ke Kaliningrad di tengah kekhawatiran masyarakat internasional akan pecahnya Perang Dunia (PD) III antara Rusia dan Amerika Serikat (AS). Rusia berdalih pengerahan rudal berbahaya itu hanya untuk latihan rutin semata.
Tapi negara-negara NATO yang berbatasan langsung dengan Kaliningrad sudah cemas dengan pengerahan rudal berbahaya Rusia itu. ”Unit rudal ini telah ditempatkan lebih dari sekali (di wilayah Kaliningrad) dan akan digunakan sebagai bagian dari latihan militer angkatan bersenjata Rusia,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Minggu (9/10/2016).
Laporan pergerakan rudal nuklir yang bisa melesat sejauh 500 kilometer itu pertama kali diungkap media Estonia dan dibenarkan pejabat intelijen AS. Rudal berbahaya Rusia dipindahkan secara rahasia dari pelabuhan Laut Baltik ke Kaliningrad tahun 2014.
”Mereka memindah sistem rudal mirip (Iskander-M) ke Kaliningrad pada tahun 2014 untuk latihan militer, itu bisa menjadi isyarat politik. Menunjukkan kekuatan, untuk mengekspresikan ketidaksenangan pada NATO,” kata pejabat intelijen AS, yang berbicara dalam kondisi anonim.
Media Estonia mengutip pejabat militer melaporkan bahwa rudal Iskander-M diangkut dengan kapal dari kawasan St Petersburg. Rusia sendiri pernah berencana memindahkan rudal berbahaya itu ke Kaliningrad tidak sampai tahun 2018 atau 2019.
“Senjata ini sangat canggih dan tidak ada senjata yang sebanding di gudang senjata Barat. Ini dapat membawa senjata nuklir, jarak terbang jarak hingga 500 km. Dengan demikian (rudal) ini mampu mengancam Polandia, termasuk instalasi pertahanan rudal AS di sana,” tulis media Estonia mengutip seorang ahli pertahanan negara itu.
Dalam beberapa pekan ini, kekhawatiran pecahnya PD III antara Rusia dan AS telah disuarakan media-media Rusia. Tabloid Moskovsky Komsomolets beberapa hari lalu melansir laporan prediksi pecahnya konfrontasi langsung AS dan Rusia yang dianggap setara dengan Krisis Rudal Kuba dan bisa memicu PD III.
Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang, setelah ketegangan dengan AS memanas. Selain itu, Rusia telah menangguhkan perjanjian pembuangan plutonium dari hulu ledak nuklir dengan alasan AS sudah melakukan tindakan bermusuhan terhadap Moskow. (SindoNews)
Thursday, October 6, 2016
Media Moskow Prediksi Rusia Perang Langsung dengan Amerika Serikat
Sebuah media di Moskow memprediksi Rusia akan konfrontasi militer atau perang secara langsung dengan Amerikat Serikat (AS) sebagai puncak ketegangan atas krisis Suriah. Media itu dalam laporannya mengkhawatirkan pecahnya Perang Dunia Ketiga.
Tabloid Moskovsky Komsomolets memprediksi konfrontasi militer langsung kedua negara itu setara dengan Krisis Rudal Kuba. Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang sejak kemarin (5/10/2016), setelah ketegangan dengan AS memanas.
Dalam sebuah artikel berjudul “The stakes are higher than Syria” tabloid Moskovsky Komsomolets memperingatkan perang baru yang potensial.
“Bayangkan saja bahwa AS melakukan apa yang telah ingin lakukan untuk waktu yang lama dan serangan terhadap (Presiden Suriah Bashar) Assad, tidak sengaja tapi pada tujuan dan secara terbuka,” bunyi laporan media Rusia tersebut.
”Rusia harus membela sekutunya atau mempertimbangkan melawan Amerika, tapi pasti ini akan mengarah pada Perang Dunia Ketiga,” lanjut laporan itu.
”Rusia bisa menang besar di Suriah, tetapi juga bisa kehilangan besar juga. Kita tidak boleh lupa bahwa di Suriah kita memainkan permainan berisiko yang menakjubkan,” imbuh laporan media Rusia.
Moskovsky Komsomolets lantas memprediksi jet-jet tempur koalisi yang dipimpin AS akan ditembak jatuh. ”Menurut pilot pesawat tempur kami, yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah menembak jatuh beberapa (jet tempur) pasukan koalisi, tapi ini berarti perang skala penuh,” sambung laporan tersebut. (SindoNews)
Tabloid Moskovsky Komsomolets memprediksi konfrontasi militer langsung kedua negara itu setara dengan Krisis Rudal Kuba. Laporan itu muncul hampir bersamaan dengan latihan perang nuklir besar-besaran oleh Pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin yang melibatkan 40 juta orang sejak kemarin (5/10/2016), setelah ketegangan dengan AS memanas.
Dalam sebuah artikel berjudul “The stakes are higher than Syria” tabloid Moskovsky Komsomolets memperingatkan perang baru yang potensial.
“Bayangkan saja bahwa AS melakukan apa yang telah ingin lakukan untuk waktu yang lama dan serangan terhadap (Presiden Suriah Bashar) Assad, tidak sengaja tapi pada tujuan dan secara terbuka,” bunyi laporan media Rusia tersebut.
”Rusia harus membela sekutunya atau mempertimbangkan melawan Amerika, tapi pasti ini akan mengarah pada Perang Dunia Ketiga,” lanjut laporan itu.
”Rusia bisa menang besar di Suriah, tetapi juga bisa kehilangan besar juga. Kita tidak boleh lupa bahwa di Suriah kita memainkan permainan berisiko yang menakjubkan,” imbuh laporan media Rusia.
Moskovsky Komsomolets lantas memprediksi jet-jet tempur koalisi yang dipimpin AS akan ditembak jatuh. ”Menurut pilot pesawat tempur kami, yang terbaik yang kita bisa lakukan adalah menembak jatuh beberapa (jet tempur) pasukan koalisi, tapi ini berarti perang skala penuh,” sambung laporan tersebut. (SindoNews)
Perang Dunia III Hampir Pasti Terjadi
Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) menyatakan sebuah perang skala penuh antara negara-negara hampir pasti terjadi dan akan sangat mematikan. Peringatan ini muncul seiriing kebijakan China dan Rusia meningkatkan kemampuan militernya.
Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.
"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).
Hix merujuk pada kemajuan teknologi China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun memperingatkan bahwa perkembangan tersebut harus memaksa Gedung Putih untuk mempersiapkan diri dalam skala yang belum pernah dilihat militer AS sejak perang Korea.
Sementara petinggi militer AS lainnya, Letnan Jenderal Joseph Anderson, mengatakan AS menghadapi ancaman dari sebuah negara bangsa yang modern yang bertindak agresig dalam persaingan militer. Sedangkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mark Milley mengatakan ancaman itu hampir pasti dan tentara AS harus bersedia untuk terlibat dalam perang cyber dan siap untuk bertarung di perkotaan yang kompleks. Dia menambahkan: "Meskipun kami sudah siap sekarang, kita akan ditantang."
Katharina McFarland, bertindak asisten sekretaris militer untuk akuisisi, logistik, dan teknologi senjata mengklaim masa depan perlu dirancang lebih baik. "Sebagai seorang insinyur, saya pikir dalam hal antarmuka yang sederhana - tidak peduli apa helikopter, Anda bisa masuk dan mengoperasikannya." (SindoNews)
Mayor Jenderal William Hix memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan senjata canggih akan mempercepat laju perang. Peringatan ini datang setelah Rusia dan China mengerahkan pasukan militer konvesional dalam jumlah besar, sementara Korea Utara (Korut) melakukan uji coba nuklir meskipun telah dijatuhi sanksi oleh PBB.
"Konflik konvesional di masa depan akan sangat mematikan serta cepat, dan kita tidak memiliki stopwatch. Kecepatan di mana mesin dapat membuat keputusan di masa depan akan menantang kemampuan kita untuk mengatasinya, menuntut hubungan baru antara manusia dan mesin," katanya seperti dikutip dari laman Express, Kamis (6/10/2016).
Hix merujuk pada kemajuan teknologi China dan Rusia dalam beberapa tahun terakhir. Ia pun memperingatkan bahwa perkembangan tersebut harus memaksa Gedung Putih untuk mempersiapkan diri dalam skala yang belum pernah dilihat militer AS sejak perang Korea.
Sementara petinggi militer AS lainnya, Letnan Jenderal Joseph Anderson, mengatakan AS menghadapi ancaman dari sebuah negara bangsa yang modern yang bertindak agresig dalam persaingan militer. Sedangkan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mark Milley mengatakan ancaman itu hampir pasti dan tentara AS harus bersedia untuk terlibat dalam perang cyber dan siap untuk bertarung di perkotaan yang kompleks. Dia menambahkan: "Meskipun kami sudah siap sekarang, kita akan ditantang."
Katharina McFarland, bertindak asisten sekretaris militer untuk akuisisi, logistik, dan teknologi senjata mengklaim masa depan perlu dirancang lebih baik. "Sebagai seorang insinyur, saya pikir dalam hal antarmuka yang sederhana - tidak peduli apa helikopter, Anda bisa masuk dan mengoperasikannya." (SindoNews)
Wednesday, September 7, 2016
Jet Tempur Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS dalam Jarak 3 Meter
Sebuah pesawat jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan “tidak aman dan tidak professional” terhadap pesawat mata-mata Amerika Serikat yang patroli rutin di atas Laut Hitam. Jet tempur Rusia itu bermanuver dalam jarak 10 kaki atau sekitar 3,05 meter di depan pesawat pengintai AS.
Insiden itu diungkap dua pejabat Pentagon AS kepada Reuters. Insiden terjadi pada saat ketegangan antara AS dan Rusia meningkat dalam berbagai masalah, termasuk krisis Suriah.
Seorang pejabat Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa insiden tersebut berlangsung sekitar 19 menit, di mana pesawat jet tempur Su-27 Rusia muncul dalam jarak 10 kaki di depan pesawat mata-mata P-8 AS.
”Mereka di sana selama 12 jam dan ada banyak interaksi. Tapi hanya salah satu dari insiden apa yang disebut pilot bertindak tidak aman,” kata pejabat Pentagon lain yang tidak berwenang berbicara kepada media, yang dikutip Kamis (8/9/2016).
Masih menurut pejabat tersebut, insiden itu sedang ditinjau untuk menentukan apakah akan dimasukkan dalam pembicaraan tahunan pejabat AS dan Rusia tentang pencegatan pesawat. Pemerintah maupun militer Rusia belum merespons laporan dari pejabat Pentagon tersebut.
Ada sejumlah insiden serupa yang melibatkan Rusia dan AS pada tahun ini. Pada bulan April, dua pesawat tempur Rusia melakukan simulasi serangan di dekat kapal perang AS di Laut Baltik.
Peristiwa ini mengingatkan pada Perang Dingin, ketika serangkaian kontak menyebabkan perjanjian bilateral yang bertujuan untuk menghindari interaksi berbahaya di laut. Perjanjian itu diteken pada tahun 1972 oleh Komandan Angkatan Laut AS John Warner dan Komandan Angkatan Laut Soviet Admiral Gorshkov Sergei.
Penjelasan Kemntrian Pertahanan Rusia
Kementerian Pertahanan Rusia mengungkap alasan pesawat jet tempur Su-27 mencegat pesawat mata-mata P-8 AS yang oleh pejabat Pentagon dilakukan dalam jarak tiga meter di atas Laut Hitam. Menurut kementerian itu, pesawat mata-mata AS sudah dua kali mencoba mendekati perbatasan Rusia.
Aksi pesawat pengintai P-8 itu dilakukan dengan kondisi transponder dimatikan. Kondisi itu yang membuat militer Rusia bertindak.
”Pada tanggal 7 September, pesawat pengintai AS, Poseidon P-8 mencoba mendekati perbatasan Rusia dua kali dengan transponder mereka mati,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Russia Today, Kamis (8/9/2016).
“Jet tempur Su-27 mencegat pesawat AS sesuai dengan aturan ketat penerbangan internasional,” lanjut pernyataan Konashenkov.
Seorang atase pertahanan AS telah dipanggil oleh Kementerian Pertahanan Rusia setelah insiden di Laut Hitam di dekat perbatasan timur Rusia, di mana sebuah pesawat mata-mata AS terdeteksi terbang terlalu dekat dengan perbatasan Rusia.
Sebelumnya diberitakan bahwa dua pejabat Pentagon menuduh jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan "tidak aman dan tidak profesional" terhadap sebuah pesawat mata-mata AS yang melakukan patroli rutin di Laut Hitam.
Mereka mengatakan bahwa jet tempur Su-27 Rusia muncul di depan pesawat P-8 AS dalam jarak 10 kaki atau 3,05 meter meter selama sekitar 19 menit. (SindoNews)
Insiden itu diungkap dua pejabat Pentagon AS kepada Reuters. Insiden terjadi pada saat ketegangan antara AS dan Rusia meningkat dalam berbagai masalah, termasuk krisis Suriah.
Seorang pejabat Pentagon, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa insiden tersebut berlangsung sekitar 19 menit, di mana pesawat jet tempur Su-27 Rusia muncul dalam jarak 10 kaki di depan pesawat mata-mata P-8 AS.
”Mereka di sana selama 12 jam dan ada banyak interaksi. Tapi hanya salah satu dari insiden apa yang disebut pilot bertindak tidak aman,” kata pejabat Pentagon lain yang tidak berwenang berbicara kepada media, yang dikutip Kamis (8/9/2016).
Masih menurut pejabat tersebut, insiden itu sedang ditinjau untuk menentukan apakah akan dimasukkan dalam pembicaraan tahunan pejabat AS dan Rusia tentang pencegatan pesawat. Pemerintah maupun militer Rusia belum merespons laporan dari pejabat Pentagon tersebut.
Ada sejumlah insiden serupa yang melibatkan Rusia dan AS pada tahun ini. Pada bulan April, dua pesawat tempur Rusia melakukan simulasi serangan di dekat kapal perang AS di Laut Baltik.
Peristiwa ini mengingatkan pada Perang Dingin, ketika serangkaian kontak menyebabkan perjanjian bilateral yang bertujuan untuk menghindari interaksi berbahaya di laut. Perjanjian itu diteken pada tahun 1972 oleh Komandan Angkatan Laut AS John Warner dan Komandan Angkatan Laut Soviet Admiral Gorshkov Sergei.
Penjelasan Kemntrian Pertahanan Rusia
Kementerian Pertahanan Rusia mengungkap alasan pesawat jet tempur Su-27 mencegat pesawat mata-mata P-8 AS yang oleh pejabat Pentagon dilakukan dalam jarak tiga meter di atas Laut Hitam. Menurut kementerian itu, pesawat mata-mata AS sudah dua kali mencoba mendekati perbatasan Rusia.
Aksi pesawat pengintai P-8 itu dilakukan dengan kondisi transponder dimatikan. Kondisi itu yang membuat militer Rusia bertindak.
”Pada tanggal 7 September, pesawat pengintai AS, Poseidon P-8 mencoba mendekati perbatasan Rusia dua kali dengan transponder mereka mati,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, dalam sebuah pernyataan yang dikutip Russia Today, Kamis (8/9/2016).
“Jet tempur Su-27 mencegat pesawat AS sesuai dengan aturan ketat penerbangan internasional,” lanjut pernyataan Konashenkov.
Seorang atase pertahanan AS telah dipanggil oleh Kementerian Pertahanan Rusia setelah insiden di Laut Hitam di dekat perbatasan timur Rusia, di mana sebuah pesawat mata-mata AS terdeteksi terbang terlalu dekat dengan perbatasan Rusia.
Sebelumnya diberitakan bahwa dua pejabat Pentagon menuduh jet tempur Rusia melakukan manuver pencegatan "tidak aman dan tidak profesional" terhadap sebuah pesawat mata-mata AS yang melakukan patroli rutin di Laut Hitam.
Mereka mengatakan bahwa jet tempur Su-27 Rusia muncul di depan pesawat P-8 AS dalam jarak 10 kaki atau 3,05 meter meter selama sekitar 19 menit. (SindoNews)
Subscribe to:
Posts (Atom)









